
Rosé BLACKPINK membahas NeeDoh (23/04/2026). Sumber: Bigjigs Toys/YouTube, via Korea Times
Namanya NeeDoh, mainan sensorik yang bisa diremas, ditarik, lalu kembali ke bentuk semula. Daya tariknya cukup menarik di tengah generasi yang hidup di depan layar, sebuah mainan sederhana yang sekarang tengah menjadi primadona.
NeeDoh diproduksi oleh Schylling, perusahaan mainan asal Amerika Serikat. Menurut laporan ABC News, NeeDoh pertama kali diperkenalkan pada 2017 lewat Groovy Glob dan kini memiliki lebih dari 50 varian, termasuk Gummy Bear dan Nice Cube. Mainan ini kerap dipasarkan sebagai mainan bebas gadget yang membantu semua kalangan meredakan stres serta meningkatkan fokus dengan harga yang cukup terjangkau. Laporan Spielwarenmesse mencatat bahwa sebagian besar produknya dibanderol di bawah lima dolar AS, sehingga mudah dikoleksi. Meski sudah beredar hampir satu dekade, lonjakan popularitasnya baru terjadi belakangan ini.
Ledakan itu terjadi pada 2026 dan memicu kelangkaan di berbagai negara. CEO Schylling, Paul Weingard, mengatakan kepada media bahwa perusahaan menghabiskan stok setahun hanya dalam sembilan minggu. Korea Times melaporkan bahwa harga jual ulang melonjak puluhan kali lipat dari harga eceran dan pembeli rela mengantri di depan toko. Warga ramai menyebut aktivitas ini “NeeDoh hunting”, yaitu berburu produk dari toko ke toko.
Fakta bahwa produk berusia hampir satu dekade baru meledak sekarang menunjukkan bahwa kualitas produk bukan satu-satunya penyebab, melainkan eksposur media yang berulang. Dalam teori penentuan agenda (agenda setting), McCombs dan Shaw (1972) menjelaskan bahwa media memang tidak selalu menentukan apa yang dipikirkan orang, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan apa yang dianggap penting untuk dipikirkan. Pemberitaan dari Korea Times, ABC News, hingga media lokal membuat NeeDoh terus hadir sebagai topik yang layak diperhatikan.
Peran selebritas juga tidak kecil. Korea Times mencatat bahwa penyebutan NeeDoh oleh Rosé BLACKPINK membantu memperkenalkannya kepada audiens Korea. Fenomena ini dapat dibaca melalui konsep alur komunikasi dua tahap (two-step flow of communication) dari Katz dan Lazarsfeld (1955), yang menyatakan bahwa pesan media diteruskan lebih dulu oleh pemimpin opini yang dipercaya pengikutnya. Kepercayaan itu diperkuat oleh interaksi parasosial. Horton dan Wohl (1956) menjelaskan bahwa penonton dapat merasakan kedekatan satu arah dengan figur media, sehingga penyebutan produk oleh figur yang dikagumi terasa sebagai rekomendasi personal, bukan iklan.
Di Dakota Selatan, media lokal bahkan menyebutnya contoh nyata “TikTok Effect”, ketika satu tren viral mengubah produk biasa menjadi sensasi.
Popularitas NeeDoh juga menyentuh persoalan yang lebih manusiawi, yaitu kebutuhan akan kendali dan ketenangan. Sebuah ulasan menyebut bahwa bagi anak maupun orang dewasa, NeeDoh menawarkan sesuatu yang langka seperti rasa memegang kendali. Di tengah tekanan akademik dan kecemasan sosial, meremas benda lentur menjadi ritual kecil untuk menenangkan diri.
Hal ini sejalan dengan teori penggunaan dan kepuasan (uses and gratifications). Katz, Blumler, dan Gurevitch (1974) menjelaskan bahwa khalayak bersifat aktif dan memilih media atau produk untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti pelepasan ketegangan. Dengan demikian, eksposur media hanya membuka pintu perhatian, sedangkan kebutuhan akan ketenangan yang mendorong orang benar-benar membeli dan memakainya.
Self-care yang kerap dikemas sebagai produk pun menemukan bentuk paling sederhananya. Namun, pola ini juga mengingatkan pada demam koleksi lain. Ulasan yang sama membandingkan kegilaan NeeDoh dengan mania terhadap barang koleksi seperti Labubu, yang menunjukkan bahwa emosi dan identitas anak muda kerap dikomodifikasi menjadi tren sesaat.
Karakter spreadable media yang mempercepat popularitas juga mempercepat penyebaran tiruan perilaku berbahaya, sebab khalayak meniru apa yang tampak menarik dan sedang ramai dibicarakan. Peringatan di kemasan mudah kalah oleh potongan video yang menarik, sementara moderasi konten bersifat reaktif dan sering terlambat.
Persoalan lain adalah barang tiruan. Spielwarenmesse melaporkan bahwa Schylling memperingatkan produk NeeDoh di platform seperti Temu, Alibaba, dan eBay bukan produk resmi, sehingga viralitas juga membuka celah ekonomi bagi pihak yang tidak bertanggung jawab.
NeeDoh pada dasarnya adalah mainan sederhana yang hadir untuk menjawab kebutuhan sehari-hari terkait ketenangan dan fokus di tengah hari yang padat. Popularitasnya menunjukkan bahwa ledakan sebuah produk lahir dari kombinasi eksposur media yang berulang, pengaruh figur publik, dan kebutuhan psikologis khalayak. Persoalan keselamatan yang muncul lebih tepat dilihat sebagai tantangan bersama antara produsen, platform, kreator, dan pengguna dalam ekosistem digital, bukan semata kesalahan satu produk.
Selama dipakai sesuai petunjuk dan dibeli dari penjual resmi, NeeDoh tetap bisa dinikmati sebagai teman rehat yang menyenangkan.
Daftar Pustaka
ABC News. (n.d.). NeeDohs are the new viral toy: What to know. Good Morning America. https://ws.goodmorningamerica.com/family/story/needohs-new-viral-toy-132023062
Dakota News Now. (2026, June 24). Social media’s latest squeeze is flying off South Dakota shelves. https://www.dakotanewsnow.com/2026/06/24/social-medias-latest-squeeze-is-flying-off-south-dakota-shelves/
Everhem. (n.d.). Why you should rethink buying those viral NeeDoh squishies. https://development.everhem.com/rethink-buying-those-viral-needoh-squishies
Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction: Observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215–229.
Jenkins, H., Ford, S., & Green, J. (2013). Spreadable media: Creating value and meaning in a networked culture. New York University Press.
Katz, E., & Lazarsfeld, P. F. (1955). Personal influence: The part played by people in the flow of mass communications. Free Press.
Katz, E., Blumler, J. G., & Gurevitch, M. (1974). Utilization of mass communication by the individual. In J. G. Blumler & E. Katz (Eds.), The uses of mass communications (pp. 19–32). Sage.
Korea Times. (2026, April 23). BLACKPINK Rosé’s ‘stress ball’ faces US shortages. https://www.koreatimes.co.kr/amp/lifestyle/20260423/blackpink-roses-stress-ball-faces-us-shortages
McCombs, M. E., & Shaw, D. L. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public Opinion Quarterly, 36(2), 176–187.
Spielwarenmesse. (n.d.). NeeDoh becomes latest viral toy craze. https://www.spielwarenmesse.de/en/mag/toy-market-news/needoh-becomes-latest-viral-toy-craze/
Penulis : Larasati Yudho Pratiwi






