Di era digital sekarang, media sosial memang sudah jadi bagian dari keseharian.Scroll Instagram, buka TikTok, sampai mantengin notifikasi WhatsApp seolah jadi rutinitas wajib. Tapi, pernah nggak kamu merasa capek padahal baru buka sosmed sebentar saja? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami Digital Burnout. Fenomena ini sering terjadi tanpa kita sadari, karena otak dipaksa menerima terlalu banyak informasi sekaligus.
Digital Burnout sendiri adalah kondisi ketika seseorang merasa lelah, jenuh, bahkan stres akibat terlalu lama berinteraksi dengan layar atau media digital. Notifikasi yang tiada henti, dorongan untuk selalu up to date, atau multitasking berlebihan bisa membuat energi mental cepat terkuras. Akhirnya, kita jadi merasa drained setiap kali buka HP atau laptop, padahal tujuan awalnya hanya untuk refreshing. Beberapa tanda umum Digital Burnout antara lain sulit fokus karena kebanyakan distraksi, cepat pusing saat terlalu lama online, hingga mood yang gampang drop setelah scrolling.
Kondisi ini jelas berdampak buruk, bukan hanya pada kesehatan mental, tapi juga produktivitas sehari-hari. Sayangnya, banyak orang menganggap rasa capek karena main sosmed itu hal biasa, padahal jika dibiarkan bisa semakin mengganggu. Berdasarkan laporan GoodStats (IDN Media), mayoritas Gen Z Indonesia menghabiskan waktu lebih dari satu jam setiap hari di media sosial. Sekitar 30% Gen Z bahkan mengakses media sosial lebih dari tiga jam per hari. Selain itu:
- 22% Gen Z mengakses media sosial 2 – 3 jam per hari,
- 24% mengakses 1- 2 jam per hari,
- 13% mengakses 30 menit – 1 jam per hari,
- 1% yang menggunakan media sosial kurang dari 15 menit per hari.
Fakta ini memperlihatkan betapa rentannya Gen Z terhadap Digital Burnout, karena intensitas penggunaan media sosial mereka yang sangat tinggi. Kabar baiknya,Digital Burnout bisa dicegah dan dikendalikan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membatasi screen time, melatih diri untuk lebih mindful saat menggunakan media sosial, serta meluangkan waktu untuk aktivitas di luar layar, seperti membaca buku, olahraga, atau sekadar jalan santai.
Selain itu, bisa mencoba membiasakan diri untuk tidak selalu merasa “harus online”. Banyak orang mengalami Fear Of Missing Out (FOMO) sehingga memaksa diri untuk terus mengikuti update terbaru. Padahal, menunda membalas pesan atau tidak membuka aplikasi beberapa jam bukanlah masalah besar. Justru dengan memberi jeda, kita bisa merasa lebih tenang dan punya kontrol penuh atas waktu kita sendiri. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menciptakan rutinitas digital yang lebih sehat. Misalnya, gunakan fitur do not disturb saat jam kerja atau sebelum tidur, hindari scrolling di atas kasur, serta pilih konten yang benar-benar bermanfaat atau menghibur. Dengan begitu, waktu yang kita habiskan di dunia digital jadi lebih berkualitas, bukan sekadar habis tanpa arah.
Pada akhirnya, Digital Burnout bukan sekadar isu teknologi, tapi juga soal kesehatan mental. Dunia digital memang menawarkan banyak peluang dan hiburan, tapi jangan sampai kita terjebak di dalamnya sampai kehilangan energi. Dengan kesadaran dan pengelolaan yang tepat, kita bisa tetap menikmati manfaat teknologi tanpa mengorbankan ketenangan diri. Jadi, sudah siap mulai lebih bijak menggunakan sosmed hari ini?
Sumber:
Pengarang : Tetra Simorangkir



